INOVASI VENUE DAN BUDAYA: PENDEKATAN HIBRIDA UNTUK PENGEMBANGAN MICE DAN PARIWISATA BERKELANJUTAN DI BALI

Authors

  • Priskila Adiasih Petra Christian University
  • Gunawan Tanuwidjaja Petra Christian University & Queensland University of Technology
  • Michael Brahmantyo Murgito Petra Christian University
  • Paramesti Yasminastiti Petra Christian University
  • Fellicia Natalia Mewandy Petra Christian University
  • Janice Rieger University of Technology Sydney

Keywords:

Desain venue hibrida, Pariwisata MICE berkelanjutan, Integrasi budaya Bali, Arsitektur hijau, Ruang acara inklusif

Abstract

Studi ini mengusulkan model arsitektur hibrida untuk mengembangkan pariwisata Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) atau Pertemuan, Insentif, Konferensi, dan Pameran yang berkelanjutan di Bali dengan mengintegrasikan warisan budaya dan desain ramah lingkungan. Berlandaskan kosmologi Bali (Tri - Niskala, yang merupakan interaksi antara dunia nyata dan gaib), penelitian ini mengidentifikasi kelemahan pada fasilitas existing melalui penelitian etnografis, penilaian aksesibilitas, dan analisis acara hibrida. Temuan menunjukkan bahwa infrastruktur MICE saat ini di Denpasar menghadapi tantangan dalam adaptabilitas ruang, kualitas akustik, dan inklusivitas, yang membatasi kemampuannya untuk menyelenggarakan acara modern dan hibrida. Wawasan etnografis dari pemangku kepentingan lokal menyoroti pentingnya simbolisme ruang suci dan akustik alami dalam tradisi pertunjukan Bali. Pada saat yang sama, penilaian aksesibilitas lima venue menyoroti kelemahan sistemik dalam desain universal. Desain yang diusulkan di penelitian ini mengintegrasikan zonasi Tri Mandala—memisahkan zona publik, transisi, dan suci—dengan strategi berkelanjutan seperti ventilasi alami, pengumpulan air hujan, dan tata letak modular. Infrastruktur digital yang siap hibrida diintegrasikan tanpa mengorbankan keaslian budaya, memastikan kesesuaian dengan tren MICE global. Desain ini menekankan kolaborasi pemangku kepentingan, menunjukkan bagaimana arsitek, penampil, dan pembuat kebijakan dapat bersama-sama menciptakan venue yang tangguh yang menyeimbangkan kelayakan ekonomi, tanggung jawab lingkungan, dan pelestarian budaya. Melalui integrasi filsafat Bali dan arsitektur hijau, studi ini menyajikan sebuah kerangka kerja yang dapat diadopsi oleh kawasan pariwisata untuk melakukan inovasi dan menjaga identitas lokal. Temuan-temuan ini mendorong insentif kebijakan yang mendukung infrastruktur
siap hibrida dan proses desain partisipatif, dengan menempatkan integritas budaya sebagai landasan utama pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Published

2025-12-24